NovelKu
Beranda/kebangkitan-figuran/Kebangkitan Figuran - MTL - Chapter 125

Kebangkitan Figuran - MTL - Chapter 125

Bab 125 Hari Valentine (2) Ubah cara berpikirku. Seraphina telah mengatakan itu padaku berkali-kali, seperti mantra, seperti peringatan. Aku selalu mengabaikannya, menyimpannya di benakku seperti catatan yang ditulis di selembar kertas. Tapi kali ini, kata-katanya terasa berbeda. Kata-katanya tidak hanya terngiang-ngiang; kata-katanya bergema, semakin lama semakin keras hingga menjadi mustahil untuk diabaikan. Kursiku bergesekan dengan lantai ketika aku tiba-tiba berdiri. Suara melengking itu seolah membelah aula yang bergelembung, membuat orang-orang menoleh. Rachel, dengan mata lebar, memanggilku. “Arthur,” katanya, campuran kebingungan dan kekhawatiran terpancar di wajahnya. “Kita ada kelas sore—apakah kamu baik-baik saja?” Retakan. Sesuatu dalam pikiranku hancur berkeping-keping dengan satu kata itu. Aku tidak bisa sepenuhnya menjelaskan suara itu—apakah itu internal atau eksternal—tetapi suara itu berdengung di telingaku seperti pecahan kaca yang patah di bawah tekanan yang tak tertahankan. Rasa pusing pun menyusul, seolah-olah seluruh aula bergeser keluar dari fokus. Napasku tersengal-sengal, dan untuk sesaat, aku tidak yakin apakah aku mendengar pikiranku sendiri bergema di tengkorakku atau apakah dunia di sekitarku benar-benar hancur berkeping-keping. “Aku… merasa tidak enak badan,” ucapku lirih, suaraku terdengar jauh di telingaku sendiri. Aku meraih udara seolah itu bisa memberiku keseimbangan, tetapi itu tak terwujud, terlepas dari genggamanku. Aku berpaling dari Rachel, mengabaikan uluran tangannya. Tubuhku berputar secara otomatis, dan aku meninggalkan ruang belajar dengan langkah yang tidak stabil. Berjalan berubah menjadi berlari. Sesaat sebelumnya, aku berjalan cepat menyusuri koridor, sesaat kemudian aku berlari kencang melewati teman-teman sekelas yang terkejut. Dinding-dinding Akademi yang berornamen, dipenuhi dengan tampilan hologram acara-acara mendatang, tampak berputar ke dalam, menyempit menjadi labirin yang tak menawarkan jalan keluar. Setiap langkah bergema, seperti dentuman yang mencerminkan detak jantungku yang berdebar kencang. Tidak ada rencana—hanya dorongan naluriah untuk melarikan diri, untuk menghindari kekacauan di dalam kepalaku. Pintu dan jendela melintas dengan cepat, kilasan ilusi atau dekorasi mewah yang biasanya kukagumi. Tapi sekarang mereka terasa seperti bentuk yang mengancam, menakutkan dan menyesakkan. Paru-paruku terasa terbakar, tetapi aku terus berjalan, didorong oleh suara retakan yang kudengar di dalam pikiranku. Rasanya seperti garis patahan telah terbuka di dalam jiwaku, setiap langkah baru memperlebar retakan itu. Aku sampai di kamar asramaku tanpa ingat bagaimana aku melewati labirin itu. Sesaat sebelumnya, aku berada di koridor yang tak berujung itu, sesaat kemudian aku tersandung melewati pintu, dan keheningan yang mencekik menyelimutiku saat pintu itu tertutup di belakangku. Lututku lemas, dan aku ambruk ke lantai, permukaan yang dipoles terasa dingin di kulitku yang berkeringat. Retakan. Lagi. Lebih keras, lebih tajam, seolah-olah tangan raksasa sedang menghancurkan kaca yang rapuh dari dalam. Aku mendesis kesakitan, tangan-tanganku meraba kepala, berusaha sia-sia untuk menekan suara itu. Denyut nadiku berdebar kencang di telingaku. Pikiranku kacau, tersebar di permukaan ingatanku. Aku merasakan realitas bergeser lagi, atau mungkin persepsiku yang tersentak. Pusing yang ditimbulkan membuatku ingin berteriak. Waktu seolah berhenti. Aku tak bisa memastikan apakah hanya beberapa detik atau berjam-jam berlalu. Napasku tersengal-sengal, setiap hembusan napas bergetar saat aku berusaha menahan isak tangis. Rasa sakit di dada dan kepalaku menyatu, membentuk gulungan penderitaan yang mencekam. Sebuah penghalang tak berwujud—yang telah kubangun di sekitar hatiku, pikiranku, seluruh hidupku—mulai runtuh, dan itu menakutkan. Retakan! Pukulan terakhir, suara mental seperti seribu pecahan cermin yang berjatuhan di lantai marmer. Seluruh tubuhku menegang. Aku meringkuk, menekan dahiku ke lantai. Tubuhku menggigil. Ilusi, narasi diri yang telah kubuat, semuanya terurai saat itu juga. Aku ingat samar-samar, bagaimana dulu aku menganggap semua orang di sekitarku seolah-olah mereka adalah tokoh dalam sebuah kisah besar. Peran mereka, alur cerita mereka, keniscayaan—semuanya tidak nyata, bukan? Itulah alasan yang kukatakan pada diriku sendiri. Bahwa dunia ini adalah sebuah novel, sebuah naskah, dan aku, sang pengamat, terlepas dari konsekuensi sebenarnya. Jika sesuatu yang tragis terjadi, itu “hanya bagian dari plot.” Jika seseorang berhasil atau gagal, itu “sudah ditakdirkan.” Mereka tidak nyata bagiku. Mereka hanyalah… pengganti. Atau lebih buruk lagi, objek untuk dimanipulasi. Dan sekarang, ilusi-ilusi itu, konstruksi mental itu, hancur berkeping-keping. Rasa kendali yang muncul dari keyakinan bahwa aku berada di atas narasi, bahwa orang-orang di sekitarku hanyalah peran yang tak bisa dimainkan, lenyap seperti gula dalam air. Aku tersentak, terbatuk, dan memaksa mataku terbuka. Kenyataan di kamarku yang kecil terasa mencekam. Tak ada ilusi yang memperhalus sudut-sudut ruangan; tak ada suara narator bijak yang menjelaskan bab selanjutnya. Sebaliknya, aku hanyalah seorang manusia, terperangkap di lantai dingin dengan beban seribu penyesalan yang menghantam tengkorakku. “Apa… yang selama ini kulakukan?” gumamku lirih, dengan suara serak yang terputus-putus. Suaraku bergetar, tak kukenali. Kenangan-kenangan membanjiri pikiranku dengan kejelasan yang menyakitkan: saat-saat aku mengabaikan upaya Cecilia untuk terhubung, mengejek aura manipulatifnya tanpa mengakui perasaannya yang sebenarnya. Saat-saat aku mengabaikan kebaikan Rachel yang tak tergoyahkan, menganggapnya sebagai ciri khas “karakternya” yang sudah ditentukan. Saat-saat Seraphina menyampaikan kebenaran kepadaku, mendesakku untuk melihat dunia apa adanya, dan aku menganggapnya hanya sebagai dialog sampingan dalam sebuah novel. Mereka bukanlah karakter sampingan. Mereka adalah manusia yang hidup dan bernapas, dengan emosi, motivasi, dan kerentanan. Dan aku telah memperlakukan mereka semua seperti properti. Kesadaran itu menghantamku seperti pukulan fisik, dan aku membungkuk, memeluk lututku. Kuku-kukuku mencengkeram lenganku saat aku bergulat dengan gelombang rasa malu. Keesokan harinya berlalu dalam kabut. Aku hampir tidak beranjak dari lantai. Aku terlelap dan terbangun sebentar-sebentar, mimpi buruk bercampur dengan penyesalan setengah sadar. Rasa lapar menusuk perutku, tetapi aku tidak mampu mengumpulkan kemauan untuk makan. Ponselku sesekali berbunyi dengan pesan atau pengingat kelas. Aku mengabaikannya. Satu-satunya hal yang tampak nyata adalah kehancuran dalam pikiranku, seolah-olah aku harus menanggung konsekuensinya sebelum aku bisa bangkit kembali. Selama waktu itu, aku mengingat beberapa hal: perhatian lembut Rachel saat aku sakit, komentar-komentar menggoda Cecilia yang terkadang menyembunyikan kekhawatiran yang tulus, bahkan kehadiran Lucifer yang tabah yang mungkin pernah melindungiku sekali atau dua kali. Setiap kenangan bukan lagi sekadar potongan dalam sebuah cerita. Rasanya sangat manusiawi, mentah, seolah-olah aku buta warna dan baru sekarang melihat corak warna untuk pertama kalinya. Aku menyadari kekosongan jarak emosional yang telah kuciptakan. Apakah aku begitu buta terhadap perjuangan, kegembiraan, dan penderitaan mereka? Pertanyaan itu bergema. Pada hari ketiga, sesuatu dalam diriku berubah. Mungkin itu naluri bertahan hidup. Mungkin itu percikan perlawanan. Berbaring di lantai, tenggelam dalam rasa bersalah dan kesedihan, tidak bisa memperbaiki apa pun. Perlahan, aku menyangga tubuhku. Anggota badanku terasa lemah, rasa sakit tumpul menjalar di sepanjang otot-ototku. Bayanganku di cermin di seberang ruangan tampak kurus, mata dikelilingi lingkaran hitam, rambut acak-acakan. Aku menarik napas gemetar, meletakkan tangan di dada, dan merasakan detak jantungku. Stabil, terus-menerus, nyata. Aku menatap bayanganku, membiarkan sisa-sisa penyangkalan terakhir menghilang. Tidak ada bab, tidak ada penulis licik yang mengendalikan hidupku. Hanya aku, tersandung di dunia nyata yang rumit. Pertanyaannya adalah: bisakah aku bertahan, secara harfiah dan metaforis? Aku memaksakan diri untuk berdiri. Kepalaku berputar. Lututku gemetar. Aku bersandar pada rak, meraba-raba mencari sebotol air. Meneguk setengahnya, aku menyadari betapa dehidrasinya aku. Ini nyata. Beginilah hidupmu jika kau tidak berpura-pura semuanya hanya permainan. Aku mengingatkan diriku sendiri. Tenggorokanku kering, perutku terasa lapar, tanganku gemetar—ini adalah fakta yang tak terbantahkan, bukan sekadar detail skenario. Ini nyata. Aku nyata.