NovelKu
Beranda/kebangkitan-figuran/Kebangkitan Figuran - MTL - Chapter 142

Kebangkitan Figuran - MTL - Chapter 142

Bab 142 Liburan Musim Semi (4) Membuat karya seni kelas 6 itu seperti mencoba menggubah simfoni di atas piano rusak di tengah badai yang tak henti-hentinya. Angin logika dan ketelitian menerpa dari segala arah, menuntut metode dan teknik, sementara badai dahsyat kreativitas mentah dan tak terkendali mengancam untuk menghancurkan rencana matang Anda. Ini bukan soal persamaan dingin atau coretan rapi di atas perkamen—meskipun itu juga memiliki tempatnya. Tidak, ini menuntut sesuatu yang lebih sulit dipahami. Imajinasi. Bukan sekadar imajinasi yang melamun dan imajinatif, meskipun itu juga berperan. Ini adalah imajinasi yang dikendalikan oleh disiplin, dibentuk oleh niat, dan didorong oleh emosi yang murni. Bermimpi saja tidak cukup; Anda harus percaya pada mimpi itu—merasakan mimpi itu melingkari identitas Anda hingga menjadi tak terpisahkan dari siapa Anda, hingga bentuk dan wujudnya menjadi milik Anda, bukan dipinjam dari kisah orang lain. Di situlah saya terjebak tanpa harapan. Karena sejujurnya, God Flash sebenarnya bukan milikku. Dalam novel aslinya, itu adalah teknik andalan Lucifer—ciptaannya, kemenangannya. Aku mengambilnya dari halaman seperti pencuri di pasar, mencuri mahakaryanya untukku sendiri. Aku mengubahnya di sana-sini—mengganti sihir petir asli dengan sihir cahaya, sedikit mengubah strukturnya agar sesuai dengan batasanku—tetapi pada akhirnya, itu tetaplah pedang pinjaman, bukan sesuatu yang dibentuk dari api jiwaku sendiri. Jika saya ingin mengangkatnya menjadi gerakan pembuka dari seni tingkat 6 yang sesungguhnya, saya harus melakukan lebih dari sekadar menambahkan beberapa modifikasi. Saya perlu menempanya kembali, membayangkannya ulang, menanamkan darah, keringat, dan kemauan saya ke dalamnya hingga menjadi milik saya dengan cara yang tidak mungkin dilakukan oleh teknik yang dicuri. Itulah mengapa aku di sini, duduk di atas batu, mengenakan celana renang, dengan tangan terlipat untuk melindungi diri dari dingin yang menusuk tulang. Pemandangan yang indah di atas kertas—mungkin seperti gambar di kartu pos liburan, jika kau melewatkan detail penting bahwa air terjun yang menjulang di atasku itu seolah ingin membunuhku. Dan yang saya maksud dengan “air terjun” sebenarnya adalah aliran deras yang menggelegar, terasa lebih seperti benteng air yang mengamuk, mengarah langsung ke tengkorak saya. Derunya memekakkan telinga, dentuman tanpa henti yang menghantam bahu saya dan mengancam akan membuat saya terjatuh ke kolam yang bergejolak di bawah. Gigi saya terus bergemeletuk, tulang punggung saya sakit karena menahan gempuran itu, dan semangat saya terasa seperti dihancurkan di bawah aliran air terjun yang tak berujung. Menurut Guru Li, aku tidak diizinkan pergi sampai aku “menyadarinya.” Dalam keputusasaan yang naif, aku bertanya kepadanya apa arti “itu,” berharap mendapatkan definisi yang jelas—semacam teka-teki yang rapi untuk dipecahkan. Jawabannya? “Kamu akan tahu ketika saatnya tiba.” Brilian. Mendalam. Dan sama sekali tidak membantu, seperti pintu terkunci tanpa kunci. Jadi, di sanalah aku bertengger, setengah membeku di bawah air terjun neraka, setiap tetesan menghantamku seperti segenggam butiran besi. Waktu membentang dalam ketiadaan yang tak berujung, jam-jam menyatu menjadi kabut kelabu. Pikiranku terasa seperti dijejali kapas basah. Aku berpegang teguh pada satu pikiran untuk mencegahku menyerah pada dingin yang menyiksa: ‘Bagaimana aku bisa menjadikan God Flash benar-benar milikku?’ Tidak ada yang glamor atau heroik tentang ini. Air menghantamku dari atas, bulu kudukku merinding, mengingatkanku betapa rapuhnya tubuh manusia di hadapan kekuatan alam yang tak kenal ampun. Napasku tersengal-sengal, dadaku terasa sesak karena kedinginan. Saat aku lengah, air terjun mengancam akan menjerumuskanku ke dalam pusaran air. Namun aku tetap bertahan, karena suka atau tidak suka, aku percaya ada sesuatu di ujung jalan ini—sesuatu yang tak berwujud yang perlu kutemukan. “Ini bukan soal kecepatan,” gumamku melalui bibir yang mati rasa, suaraku segera tenggelam oleh deru air terjun. “Bukan juga hanya soal mana cahaya. Ini tentang satu momen yang sempurna. Sebuah alasan.” Namun kata-kata itu terasa hampa, seperti baris-baris dari naskah yang telah saya latih terlalu banyak kali. Niat, fokus, gerakan tunggal—semuanya telah menjadi jargon, diulang begitu sering sehingga kehilangan maknanya. Saya mencoba membayangkan gambar-gambar: kecemerlangan bintang yang menembus kegelapan, ujung pisau yang membelah cakrawala, dorongan tekad saya yang tak terbendung. Tetapi setiap gambar hancur di bawah deburan air yang tak henti-hentinya, meninggalkan saya dengan ide-ide setengah jadi yang lenyap secepat munculnya. Pikiranku tak terelakkan melayang ke Lucifer, pencipta asli God Flash dalam novel tersebut. Ia tidak mendapatkannya melalui refleksi tenang atau meditasi di air terjun. Ia mendapatkannya di kancah pertempuran, menempanya di bawah panasnya kebutuhan dan kecemerlangan. Itulah perbedaannya, bukan? Kebutuhan. Ia menciptakannya karena ia harus, karena pada saat itu, tidak ada alternatif lain. Jadi apa yang mendorongku? Kebutuhan atau kemudahan? Apakah aku benar-benar perlu membentuk God Flash menjadi karya seni kelas 6, atau aku hanya mengejar alur cerita yang sebenarnya bukan milikku? Gelombang air segar menghantam leherku, membuatku terengah-engah saat aku kembali fokus untuk tetap berdiri tegak. Air terjun itu terasa seperti perpanjangan dari pelajaran Guru Li—tanpa ampun, tak kenal ampun. Mungkin itulah intinya: untuk menenangkan pikiranku sampai sesuatu yang tulus muncul. Aku memaksa mataku tertutup, membiarkan dingin yang brutal menjadi semacam jangkar meditasi. Tak peduli bagaimana pikiranku berputar, air itu memberikan pengingat akan realitas, dorongan nyata untuk membuatku tetap berpijak pada kenyataan. Perlahan, deru itu menghilang dari kesadaran saya. Pikiran saya memasuki ritme yang lebih lambat. Tubuh saya terasa sakit, tetapi dalam rasa sakit itu, saya menemukan kejernihan yang rapuh. Saya membayangkan God Flash dalam bentuk awalnya—Lucifer mengeksekusinya dengan kepercayaan diri yang tak terbendung, busur petirnya yang menyala-nyala tak terbendung. Dalam versi saya, saya telah mengganti petir itu dengan mana cahaya. Tetapi itu tetaplah sebuah tiruan, sebuah cangkang. Jadi apa yang saya lewatkan? “Alasannya.” Teknik sekaliber itu bukan tentang statistik mentah atau geometri yang rumit. Itu tentang alasan Anda bergerak, keyakinan di balik pedang, niat yang tak terbantahkan yang membuat gerakan itu tak terhindarkan. Sebuah momen kemauan yang sempurna. God Flash melampaui sekadar demonstrasi kecepatan atau kecemerlangan. Itu adalah bukti kebutuhan, sebuah momen ketika seluruh keberadaan pendekar pedang menuntut gerakan itu ada. Dan begitulah, di sinilah aku, terjebak di bawah air terjun yang mematikan untuk menemukan kebutuhanku. Karena alasan Lucifer bukanlah alasanku. Kebutuhanku tidak bisa disalin dari halaman-halaman novel. Aku harus menemukan doronganku sendiri, alasanku sendiri untuk membentuk momen ini menjadi karya seni kelas 6 yang baru. Waktu kembali terasa kabur, jam-jam berubah menjadi kabur yang menyiksa. Gigiku bergemeletuk tak terkendali, anggota tubuhku hampir mati rasa. Serangan konstan di tulang belakangku terasa seperti setiap tetesnya adalah palu kecil. Pikiranku berputar-putar. Kejernihan sesaat yang sempat kudapatkan terus menghilang, digantikan oleh keputusasaan yang merayap: ‘Bagaimana jika aku tidak bisa melakukannya? Bagaimana jika Lucifer memang ditakdirkan untuk memilikinya, dan aku hanyalah pencuri yang tidak bisa memanfaatkannya sepenuhnya?’ Akhirnya, mataku terpejam, lebih karena kelelahan yang luar biasa daripada pilihan yang disengaja. Keriuhan mereda, seolah-olah aku melayang ke suatu tempat yang lebih dalam di dalam diriku. Dingin, sakit, ketegangan—tidak ada yang hilang, tetapi untuk sesaat, semuanya terasa… lebih tenang. Seolah jantungku menemukan ritme yang lebih lambat di tengah badai. “Arthur.” Suara itu menembus keadaan setengah mimpi itu dengan kejelasan yang mengkhawatirkan, seperti pisau menembus kabut. Mataku terbuka lebar, merasa bingung. Air terjun terus bergemuruh, tetapi pendengaranku terasa tumpul. Pikiranku berputar, tidak yakin akan kenyataan. Kemudian aku melihat siluetnya di dekat tepi air yang bergemuruh—Seraphina. Dia berdiri tepat di luar jangkauan langsung air terjun, percikan air menerpa lengannya. “Arthur, sudah gelap,” katanya, suaranya menembus kebisingan. “Kau sudah di sini seharian.” Kebingungan melintas di benakku. Apakah sudah malam? Tubuhku terasa begitu lelah hingga aku kehilangan jejak posisi matahari beberapa jam yang lalu. “Kau harus berhenti,” desaknya, melangkah lebih dekat, kabut yang berputar-putar membasahi mantelnya. Suaranya yang biasanya tenang kini terdengar jengkel. “Kembali ke sekte dan istirahatlah.” Aku berkedip perlahan, mencoba menyusun kembali pikiran-pikiranku yang kacau. Rasa dingin yang menusuk tulang memberitahuku bahwa aku sudah melewati batas kemampuanku. Namun, secercah perlawanan yang keras kepala menyala di dadaku—Bagaimana jika pencerahan itu hanya tinggal sesaat lagi? Tetapi kenyataan pahitnya adalah: aku berada di ambang kehancuran. Mendorong diri lebih jauh mungkin akan menghancurkanku sebelum aku menemukan sesuatu yang berarti. Dengan enggan, aku mengangguk lemah. Lenganku yang gemetar terlepas dari sisi tubuhku. Saat aku mencoba berdiri, rasa sakit menusuk punggung bawahku, dan kakiku goyah di atas batu yang licin. Aku terhuyung ke depan, setengah buta karena pusaran air, sampai Seraphina menangkap bahuku dengan tangan yang mantap. Dia mengumpat pelan, sebuah ungkapan frustrasi yang jarang terlihat. “Kau bodoh,” gumamnya, suaranya bergetar karena campuran amarah dan kekhawatiran. “Berada di luar begitu lama… Kau akan membeku atau tenggelam atau keduanya.” Aku tertawa terbata-bata. “Aku… lupa waktu.” Dia mendesah pelan, mungkin karena geli atau jengkel. “Jelas.” Cengkeramannya di lenganku kuat tapi hati-hati, membimbingku turun dari batu. Aku hampir tersandung di langkah terakhir, derasnya air terjun masih menarikku, tapi Seraphina menarikku kembali dari tepi jurang. Setelah terbebas dari derasnya air terjun, udara dingin menerpa saya dengan cara berbeda, mengirimkan getaran hebat ke seluruh tubuh. Pikiran saya terasa kabur, kelopak mata terasa berat. Tetapi percikan kecil tetap ada di dalam diri saya—sesuatu telah bergejolak di bawah serangan itu, secercah pemahaman tentang menempa God Flash kembali. Bukan wahyu penuh, bukan eureka yang penuh kemenangan, tetapi benih yang mungkin tumbuh. Seraphina, menyadari tatapanku yang kosong, mengerutkan kening. “Jangan bilang kau masih terpaku pada teknik itu dalam kondisi seperti ini,” bentaknya, meskipun kelembutan di matanya menyembunyikan nada kasarnya. “Ayo. Mari kita pemanasan dulu sebelum kau menghancurkan dirimu sendiri.”